Saya kenal dan mulai belanja barang bekas setelah lulus SMA, sekitar 30 tahun yang lalu. Alasannya klise, harganya murah, masih nyaman dipakai, dan syukur-syukur bermerek.Cocok dipakai mbois-mboisan muda. Apalagi setelah lulus SMA saya berprinsip tak ingin membenani keuangan orang tua--yang tinggal ibu saja. Jadilah barang bekas (istilah kerennya seken) menjadi pilihan memenuhi kebutuhan. Mula-mula barang seken yang saya beli berupa pakaian: celana jins, jaket, dan kemeja kotak-kotak yang kami sebut Samijo. Saya (dan teman-teman) tak tahu sebutan aslinya. Hanya karena kemeja yang biasa dipakai lakon-lakon dalam film koboi itu kebetulan bermerek Samijo, kami menamainya Samijo. Setelah beberapa lama, baru kami tahu istilahnya: kemeja flanel. Kegemaran membeli barang bekas berlanjut ke sepatu, ponsel, kamera, barang kebutuhan sehari-hari, dan terakhir: buku. Pasar loak Comboran, Malang Sumber gambar: motogokil.com Buku masuk dalam list barang bekas yang saya gandrungi karen...
Achdiat Karta Mihardja merupakan salah satu tokoh sastrawan Angkatan 45. Adalah roman Atheis yang membuat namanya melambung sehingga banyak disebut dalam pelajaran Sastra Indonesia. Jika Chairil Anwar dikenal karena puisinya, Achdiat karena prosanya. Tulisan ini merupakan ulasan 12 cerpen Achdiat yang terhimpun dalam buku kumcer Keretakan dan Ketegangan . Sesuai urutannya, secara khusus tulisan ini mengulas cerpen pertama yang berjudul Pak Sarkam, Cerita-cerita lainnya akan dibahas pada tulisan berikutnya. Cerpen ini berkisah tentang kepahitan hidup warga kampung Pasirhuni, khususnya keluarga Pak Sarkam yang menjadi tokoh utama cerita. Sebagai petani, kehidupan keluarga Pak Sarkam jauh dari cukup. Hal ini karena ulah tengkulak sekaligus rentenir yang memanfaatkan kepolosan dan kebodohan mereka dengan memonopoli penjualan hasil panen. Mereka tak mampu menolak harga jual yang sangat rendah karena ta...
Judul : Jatisaba Pengarang : Ramayda Akmal Penerbit : Grasindo Tahun terbit : 2017 Jumlah halaman : viii + 241 Sinopsis “Jatisaba” mengisahkan kerinduan seorang wanita muda pada kampung halamannya setelah sepuluh tahun merantau sebagai TKW di luar negeri. Keinginan itu menjadi tidak mudah karena Mae, wanita itu, terperangkap dalam sindikat perdagangan wanita. Ia boleh pulang, bahkan tak perlu kembali, asal bisa membawa wanita-wanita lain sebagai pengganti. Padahal Mae tahu, masa depan wanita-wanita yang dikirimnya bisa sangat gelap, bahkan hancur di negeri orang. Di luar negeri, para TKW sangat rentan terhadap berbagai kekerasan, pelecehan seksual, dan yang paling buruk diperjualbelikan organ tubuhnya. Ma...
Comments
Post a Comment